UNIPA TUMBUHKAN PATRIOTISME & SOLIDARITAS KEMANUSIAAN

UNIPA TUMBUHKAN PATRIOTISME & SOLIDARITAS KEMANUSIAAN

Karya: Simply da Flores

Merayakan HUT 94 Sumpah Pemuda, Keluarga besar Universitas Nusa Nipa – UNIPA, Maumere, Flores, NTT menggelar acara Parade Merah Putih Sumpah Pemuda. Tema acaranya adalah  Dari Nusa Nipa untuk Persatuan bangsa dan Kesatuan NKRI serta Perdamaian Dunia. Kegiatan ini dilaksanakan di lokasi Wisata Religi Bunda Segala Bangsa, Bukit Nilo, Bukit Cahaya, Maumere – Flores – NTT.

Pesona Parade Merah Putih

Acara Parade Merah Putih Sumpah Pemuda terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah pawai dan doa untuk NKRI dan Dunia. Bagian kedua ada perayaan Ekaristi bagi yang beragama Katholik.

Pada bagian pertama, ada pawai dari luar area pelataran menuju tempat acara; yang terdiri dari mahasiswa dari masing-masing fakultas, Rektor dan para wakil Rektor, Dekan dan para dosen, Pengurus dan Karyawan Yayasan, serta undangan lainnya. Selain itu para pembawa acara seperti koor, pembawa bendera fakultas dan kampus, bendera merah putih, pembaca Sumpah Pemuda, dan pembawa doa dari perwakilan agama (Islam, Hindu, Kristen dan Katholik).

Sedangkan hiasan kain merah putih ukuran besar dan pita merah putih, sudah disiapkan tim Mapala UNIPA di pelataran arca Bunda Segala Bangsa. Ada ukuran 8M x 12M membalut tiang pelataran arca, dan pita merah putih ukuran 20Mx2M sebanyak tiga buah membentuk segitiga, digantungkan keliling pelataran acara, untuk menandakan tiga butir Sumpah Pemuda.

Semua acara dipandu komentator – MC dengan apik dan semangat. Total perwakilan mahasiswa yang hadir dan pembawa acara sekitar 500 orang, selain para dosen, karyawan dan undangan.

Alur acaranya yakni pawai menuju tempat acara, sapaan pembukaan MC, tarian Nusantara, barisan formasi bendera fakultas, kampus UNIPA dan Yayasan, serta tiga bendera Sumpah Pemuda. Lalu pembacaan Sumpah Pemuda oleh barisan perwakilan fakultas. Lagu Sumpah Pemuda, Doa untuk NKRI, Sapaan semangat Sumpah Pemuda oleh Rektor UNIPA, kemudian ada pemasangan lilin solidaritas kemanusiaan dan doa untuk Perdamaian Dunia. Setelah itu, bagian pertama Parade Merah Putih selesai.

Pada kesempatan yang istimewa ini, sekaligus menjadi momen pernyataan dukungan UNIPA dan doa untuk proses perjuangan Gelar Pahlawan Nasional bagi Almarhum Drs. Frans Seda. Beliau adalah tokoh nasional asal Kabupaten Sikka, pulau Flores, NTT, yang sedang diproses agar dapat menerima anugerah gelar Pahlawan Nasional dari NKRI. Karya bhakti beliau sebagai pejabat NKRI di tingkat pusat dan luar negeri, serta di bidang bisnis, sosial dan pendidikan patut dijadikan teladan bagi generasi muda, khususnya mahasiswa UNIPA, serta generasi bangsa. Foto beliau ditahtakan juga, agar dikenal dan diteladani mahasiswa dan ikut didoakan dalam kesempatan ini.

Bagian kedua, mahasiswa yang beragama lain istirahat mandiri, sedangkan yang beragama Katholik mengikuti perayaan Ekaristi, melanjutkan semua ujud doa yang sama. Koor mahasiswa yang merdu dan syahdu membuat suasana doa khidmat dan khusuk. Setelah Perayaan Ekaristi, rangakain acara Parade Merah Putih ditutup dengan acara santap malam bersama, lalu ssmua mahasiswa membersihkan semua lokasi acara dan kembali ke tempat masing-masing.

Menumbuhkan Patriotisme Generasi Muda

Dengan kegiatan Parade Merah Putih di Bukit Nilo dalam rangka HUT Sumpah Pemuda ke 94, para pemuda pemudi UNIPA diharapakan membawa pulang pengalaman penuh makna. Semoga jiwa raga diterangi Cahaya Merah Putih, yakni semangat patriotisme, keberanian utk memiliki harkat martabat sejati, cinta tanah air dan sesama, hormat dan harmoni dengan alam lingkungan, serta meneladani para pahlawan untk sedikit bicara banyak berkarya beramal. Alam yang teduh dan pelangi yang menghias langit kota Maumere di senja hari, kiranya menjadi tanda alam menjawab tujuan dan harapan Parade Merah Putih

Salah satu tokoh dan guru adalah Drs. Frans Seda. Motto, 100% warga negara – 100% warga gereja, atau _pro Patria et Ecclesia_ . Maka, para pemuda pemudi UNIPA harus belajar tekun utk membina pribadi mandiri, berkarakter tangguh, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, inovatif dan mampu berkolaborasi dengan multi pihak di semua level,  utk meraih cita-cita sejahtera. Hal ini juga ditegaskan Rektor UNIPA dalam pesan kebangsaan saat acara Parade Merah Putih.

Proses belajar, sebagaimana motto kampus UNIPA, _“Non schollae sed vitae discimus”,_ kiranya ikut diterjemahkan dalam kegiatan ini. Belajar bukan hanya untuk mendapat ijazah, tetapi terutama untuk hidup. Mahasiswa didukung untuk belajar dari pengalaman, dan menggunakan pengalaman untuk membekali pembentukan pribadi mandiri demi seliruh kehidupannya kendepan.

Generasi Muda UNIPA didukung untuk “Belajar sambil berbuat – terlibat aktif berkegiatan di luar kelas – _learning by doing,_, lalu kembali ke kampus untuk refleksi dan belajar lagi. Sebuah proses aksi – reaksi – aksi dalam pendidikan generasi muda, dengan metode _learning by doing_ . Mungkin ini juga bagian dari model Kampus Merdeka. Mahasiswa bisa belajar dari berbagai sumber literasi dan pengalaman, dari siapa saja dan dimana saja secara kreatif.

Salah satu peluang aksi dan refleksi adalah membuat tulisan kesan dari pengalaman pribadi dalam kegiatan Parade Merah Putih, atau kegiatan lapangan lainnya, dalam berbagai bentuk; seperti catatan pengalaman, sajak – puisi, laporan, opini dan komen foto. Lalu, hasil refleksi bisa dipublikasi di berbagai media digital, atau juga menjadi tugas untuk kepentingan mata kuliah dan mendapat nilai akademik. Dan kampus bisa memfasilitasi dalam sebuah kompilasi literasi, seperti buku dan media digital. Mahasiswa kiranya akan bangga dilibatkan berliterasi dan menikmati publikasi proses belajarnya; bukan saja  hanya menonton karya orang lain.

Solidaritas Kemanusiaan dan Perdamaian Dunia

Mengetahui dari media informasi dan ikut mengalami dampak global di berbagai bidang kehidupan, mahasiswa UNIPA menyatakan kesadaran dan solidaritas kemanusiaanya. Mahasiswa UNIPA peduli dengan masalah perang, krisis ekonomi, bencana alam dan bencana kemanusiaan lainnya, sehingga dunia dialami tidak damai.

Karena itu dalam kegiatan Parade Merah Putih memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 94, ditegaskan dalam tema yakni solidaritas kemanusiaan universal dan doa untik Perdamaian dunia. Dalam kapasitas sebagai mahasiswa, dipilih bentuk kegiatan yang kelihatan sederhana tetapi memiliki energi dasyat. Ada pemasangan lilin doa solidaritas kemanusian, sebagai ungkapan nurani jiwa atas duka lara derita sesama dalam aneka  masalah kemanusiaan universal. Ada doa untuk terciptanya perdamaian dunia. Mungkin ini sebuah bentuk penerjemahan dari ungkapan ” _think globally, act locally_ “. Semoga menghasilkan manfaat dan dampak yang kaya bagi semua pihak;  ” _small action, multiple benefit for all_ “. Sungguh sebuah keyakinan iman, bahwa doa yang tulus sahaya dari kerendahan hati, pasti dikabulkan Sang Pencipta – Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Bagi Allah, tidaknada yang mustahil bagi umatnya yang berdoa penuh iman.

Disadari pengalaman zaman milenial bahwa dunia yang dilanda bencana alam dan bencana kemanusiaan ini, disebabkan kurangnya doa dan iman. Fakta tersebut ditandai dengan semakin sirnanya kasih sayang persaudaraan, karena sirnanya terima kasih dan kesadaran bersyukur manusia. Konten media sosial zaman digital milenial, sangat didominasi oleh hoaks, kekerasan, permusuhan, budaya hedonistik serta materialistik.

Merah Putih di Bukit Cahaya

Pilihan lokasi kegiatan di Bukit Nilo – Bukit Cahaya, ternyata bagian dari doa dan harapan. Dalam tradisi adat budaya lokal, tanda keajaiban alam telah dihayati para leluhur. Lalu, kesadaran dan pengalaman spiritual itu dipatrikan dalam nama tempat. Di bukit Nilo, ternyata adalah satu kampung adat budaya lokal, yang berarti cahaya – sinar – terang. Makna nama itu telah melestarikan sebuah khasanah pengalaman leluhur dan dipatrikan dalam nama kampung.

Lalu, zaman modern ini, dalam semangat dan penghayatan nilai itu, dibangun lagi menjadi destinasi wisata religi secara Katholik. Ada taman doa Bunda Segala Bangsa dan perhentian Jalan Salib menuju puncak bukit Nilo, dimana terletak komplek batu menhir kampung tua Nilo. Cahaya Matahari, bulan, bintang dialami sebagai tanda keajaiban dan kebesaran Sang Pencipta sejak zaman leluhur hingga kini.

Sebelum memasuki Bukit Nilo, ada juga tempat yang dinamakan Ledalero, artinya matahari bertengger – bersemayam. Sekarang menjadi pusat pendidikan filsafat teologi Katholik, yang dikelola Serikat Sabda Allah – SVD. Dalam kompleks kampus itu, ada juga Museum Blikon Blewut, yang menyimpan banyak data Antropologi dan etnologi, teristimewa yang menjadi temuan spektakuler tentang Stegedon Nusa Nipa dan Flores Hobbits. Kiranya warisan budaya ini bisa dipelajari dan dimaknai para generasi muda – untuk “menjadi pembawa cahaya – sinar – terang” bagi sesama.

Selain itu, kegiatan ini kiranya ikut mendukung upaya promosi destinasi wisata daerah, salah satu hight light wisata di Kabupaten Sikka.
Para mahasiswa dan kampus UNIPA berpartisipasi aktif dalam kegiatan Pariwisata Daerah dan Nasional. Upaya ini, sejalan dengan gebyar destinasi super premium wisata di Labuan Bajo Flores. Obyek yang menjadi seven wonder of the world tourism yaitu Naga Komodo – Varanus kommodoensis.

Mendukung dan mengapresiasi kegiatan UNIPA dalam Parade Merah Putih di Bukit Nilo, saya tulis sajak berikut, yang juga dibacakan pada saat acara berlangsung.

MERAH PUTIH DI PUNCAK CAHAYA

Hari ini, 28-10-2022
Memperingati 94 tahun Sumpah Pemuda
Kami Putra-Putri Nusa Nipa
Kami generasi pewaris Nusantara
Kami anak-anak bangsa
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Datang berkumpul di Bukit Nilo
Datang berdiri tegak gapai cahaya
Datang meraih sinar mentari
Kami Pemuda Pemudi  Cahaya

Kami
Pemuda Pemudi Nusa Nipa
Sujud mencium Ibu Bumi Pertiwi
nyatakan terimakasih kepadamu
para orangtua leluhur
para pahlawan kusuma bangsa
para pejuang berdirinya NKRI
para patriot pencetus Sumpah Pemuda
Satu Tanah Air, Indonesia
Satu Bangsa, Indonesia
Satu Bahasa, Indonesia
Terpatri lah dalam  jiwa raga pemuda pemudi pewaris NKRI

Kami
Pemuda Pemudi Nusa Nipa
tengadah menatap sinar mentari
meraih kekuatan cahaya Ilahi
Kobarkan semangat sanubari jiwa
Nyalakan api cinta tanah air
Hidupkan gelora patriot Pancasila
Doakan persatuan dan kesatuan bangsa
Dambakan harmoni perdamaian dunia
Berkarya dalam semangat iman
meraih kehidupan sejahtera
wujudkan cita-cita Proklamasi Indonesia

Kami
Pemuda Pemudi Nusa Nipa
Satukan rasa dan hati nurani
Padukan sanubari jiwa
dengan segenap bangsa tercinta
Yang menghuni seluruh negeri
Yang tersebar di seluruh dunia
dalam tekad sesama saudara
dalam damba martabat insani
“Mari satu doa dan cita
Mari satu tekad berpadu
Gelorakan jiwa Sumpah Pemuda
Jadilah patriot Pancasila
Hidupkan bersama dalam pribadi
Lagu cahaya Putra-Putri Fajar
“Padamu Negeri
kami berjanji
Padamu negeri
Kami berbakti
Padamu negeri
kami mengabdi
Bagimu negeri
Jiwa raga kami”
Maka
kita bersama lahirkan terang
Indonesia terus bersatu padu
Indonesia maju sejahtera
Indonesia sinarkan harmoni damai bagi seluruh dunia
Indonesia  Maju dan Jaya