TRAGEDI “KARET BERISI UDARA”

TRAGEDI “KARET BERISI UDARA”

Duka 1-10-2022

Karya: Simply da Flores
Harmony Institute

Sepak Bola
Karet bulat dirisi udara
diperebutkan dua kesebelasan
Permainan dipandu para wasit
Lalu
para penonton ikut terlibat
saksikan dengan sukacita
bukan saja langsung di lapangan
Tetapi
bisa melalui media teknologi
menyebar ke berbagai penjuru
“Kalau bermain bola,
bermainlah dengan sungguh-sungguh, agar tidak dipermainkan oleh permainan, atau menjadi korban permainan itu”

Bola bulat….
Karet diisi udara
Lalu menjadi permainan manusia
Pertandingan olahraga sepak bola
dengan aturan-aturan
yang dibuat demi manusia
Agar tujuan permainan didapatkan
Agar olahraga bisa terjadi
Agar nilai kemanusiaan dibangun
Agar hiburan bisa dinikmati
Agar bisnis pun berjalan
Lalu
sering sudah menjadi persoalan
Ketika kewarasan sirna
Ketika aturan permainan dilanggar
Ketika hawa nafsu berkuasa
Ketika menang jadi keharusan
Ketika nilai luhur diabaikan
Ketika prinsip permainan dilupakan
Maka
Permainan menjadi permusuhan
Permainan menjadi malapetaka
Permainan menelan korban jiwa
Tragedi Kemanusiaan
“manusia jadi permainan
manusia saling mempermainkan”

Tragedi ‘karet berisi udara’
Kasus di lapangan bola
Kerusuhan dan korban terjadi
Sehingga
sering saling mempersalahkan
Padahal
Nyawa manusia sudah korban
Hilang tak pernah kembali
“Apakah harus selalu menang
Apakah karet berisi udara
Apakah mainan bola bulat
Lebih berharga
dari nyawa manusia
dari harkat martabat insani
dari nilai kehidupan kita ?”

Tragedi Kemanusiaan di Kanjuruhan
bertepatan hari Kesaktian Pancasila
menggemparkan tanah air
meneteskan air mata dunia
menggugat jiwa sanubari semua
Tentang kesadaran hakiki diri pribadi
Tentang iman taqwa insani
Tentang kualitas hidup keluarga
Tentang aturan kehidupan bersama
Tentang nilai harkat martabat
Tentang makna kata tindakan
Tentang pilihan dan keputusan
Tentang kepentingan dan kebutuhan
Tentang cara dan tujuan
Tentang prinsip mengelola kehidupan
kepada setiap diri kita
Entah apa pun profesinya

Untuk Tragedi Lapangan Kanjuruhan
Tragedi Kemanusiaan
Kita diam hening prihatin
Kita sedih menangis berdukacita
“Semoga jiwa para korban
mendapat kedamaian dalam kerahiman Allah
Semoga keluarga diberi ketabahan
Semoga semua kita introspeksi
Semoga hukum bisa ditegakkan
Semoga ini yang terakhir”