TANYA MERANA MENCARI PUSARA

TANYA MERANA MENCARI PUSARA

Karya: Simply da Flores

Harmony Institute

Sudah lebih 50 tahun
luka derita lara mencekam
kehilangan sanak saudara
Korban peristiwa berdarah
Tragedi 30 September 1965
Entah salah atau tidak
Entah dibantai dimana
Entah diadili atau tidak
Entah dibakar atau dikubur
Tapi
nyatanya hilang tak berbekas
tak tahu dimana pusaranya
Sehingga…
sisakan luka lara derita
bagi segenap keluarga kerabat
yang juga dicap negatif
Korban konflik politik

Demi kursi kekuasan politik
demi jabatan di negara
Maka
segala cara apa pun dilaksanakan
termasuk tragedi berdarah ’65
Ratusan ribu nyawa melayang
Jutaan darah rakyat mengalir
Para jendral pun dibantai
Yang penting kekuasaan direbut
lalu sejarah ditulis penguasa
Kebenaran jadi tanda tanya
dengan aneka jawaban membingungkan
Keluarga korban lara merana
tak tahu dimana pusaranya
rindu nyekar dan berdoa
demi keselamatan jiwa mereka

Sudah 50 tahun berlalu
tanya merana terus melayang
Menengadah menatap merah putih
Bersimpuh di kaki Garuda
Sujud mengadu hening berdoa
Berkelana mengais makna Pancasila
Damba melihat pelangi keadilan
bagi mereka yang korban
bagi keluarga yang ditinggalkan
bagi generasi penerus bangsa
bagi harkat martabat manusia
Yang selalu dikumandangkan
Yang jadi dasar negara
Yang jadi prinsip HAM
Dan
tanya merana belum terjawab
dimana pusara para korban

Demi kepentingan segelintir orang
ratusan ribuan jutaan nyawa
telah dikorbankan dan hilang
Sebegitu penting kuasa jabatan
demi selera harta nama
Maka
segala tindakan jahat dihalalkan
lalu dibalut kata cerita
kisah sejarah bangsa negara
Menurut penulis dan penguasa
juga tangan tak kelihatan
dari berbagai wilayah dunia
Meskipun berbeda dengan fakta
lara derita para korban
air mata duka keluarga
Tanya merana dimana pusara
tetap hampa tanpa jawaban