SERPIHAN PUING KAMPUNG – 10

SERPIHAN PUING KAMPUNG – 10

Oleh: Simply da Flores

Kilau Digital Milenial

Jalan raya sudah menjangkau desa, kampung dan udik pemukiman komunitas adat budaya. Kendaraan bermotor masuk ke pelosok dan mengubah banyak hal. Lalu, listrik pun sudah menerangi rumah-rumah sederhana, serta aneka manfaat ikutannya. Kampung terang dengan kemajuan modern serta sarana digital zaman now. Aktifitas kehidupan tradisi ikut berkembang dan berubah, dengan pengaruhnya pada kehidupan bersama serta pribadi. Yang berbeda ialah perkembangan ketrampilan, cara berpikir serta kecerdasan pribadi, tidak secepat perkembangan sarana hasil IPTEK modern.

Di kota metropolitan, gemerlap kemajuan zaman jauh lebih hingar bingar. Model kehidupan milenial menawarkan berbagai peluang. Kilau digital molenial menggoda selera. Banyak yang merantau ke kota untuk mengadu nasib. Persoalannya hampir sama, yaitu peluang yang begitu luas dan sarana budaya Milenial yang menggiurkan, ternyata tidak secepat perkembangan kapasitas diri _(ketrampilan dan pengetahuan),_ untuk memilah, memilih dan memutuskan yang terbaik bagi pribadi.

Dalam dinamika perkembangan IPTEK digital Milenial, ada tantangan sangat serius dan berat. Ada tawaran baru, bukan saja sarana iptek zaman now yang menggiurkan, tetapi pola hidup, tagihan ketrampilan dan pengetahuan, nilai dan prinsip kehidupan juga baru. Misalnya soal hiburan dan aneka informasi yang sedemikian membanjir ke tangan setiap individu melalui gadget. Lalu, tiap pribadi harus memilah dan memilih. Apakah karena paham, cerdas dan sungguh bermanfaat, ataukah karena tidak paham tetapi ikuti selera publik dan gengsi ? Ada yang gagap teknologi dan terpaksa ikut arus, karena terpengaruh teman, tetangga dan tawaran iklan.

Kilau digital Milenial telah menembus sekat ruang dan waktu. Kemajuan iptek, hasil karya manusia, sudah mengubah begitu banyak hal. Manusia dikuasai dengan gelombang derasnya kemajuan IPTEK digital milenial, dan tak terbendung pengaruhnya. Kilau digital milenial terus menjadi raksasa maha daya, lalu setiap individu diterjang untuk berubah secara radikal. Saat yang sama, alam lingkungan terbatas, berkurang kualitas dan manusia pun terus bertambah. Dunia menjadi rumah bersama hampir tanpa jarak. Apakah yang bisa diandalkan untuk mengahadapi tantangan digital Milenial ? Ketika Agama dan Sang Pencipta juga jadi bahan perdebatan konten medsos, apakah iman masih bisa diandalkan, agar membuat hidup harmonis, tentram dan sejahtera?